Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Lima Fakta dan Rahasia Raja Tutankhamun

Written By Blogger on Tuesday, December 02, 2014 | 00:20

Pada tanggal 3 Januari tahun 1924, seorang arkeolog asal Inggris, Howard Carter (yang telah menggali ruang pemakaman Tutankhamun di "Lembah Para Raja Mesir" selama hampir dua tahun) telah menemukan sebuah harta terbesar sarkofagus batu makam yang berisi tiga buah peti mati, dimana pada peti mati yang terakhir terbuat dari emas padat yang diklaim berisi sisa-sisa peninggalan dari anak Raja Firaun. Dalam peringatan penemuan fenomenal yang dilakukan oleh Howard Carter, diungkapkan 5 fakta mengejutkan tentang sang firaun remaja "Tutankhamun" di dalam tempat peristirahatan terakhirnya.

1. Tidak ada kutukan dari Raja Tut.
Saat pertama kali Carter memasuki kawasan pemakaman Raja Tut yang hilang pada bulan November 1922, ia melakukan ekspedisi tersebut dibantu oleh salah seorang relasi kerjanya bernama George Herbert. Namun, setelah empat bulan kemudian Herbert meninggal dunia. Menurut hasil tes analisa yang dilakukan pada tubuh Herbert pada saat itu dinyatakan jika kematian Herbert dikarenakan keracunan darah dalam tubuh.

Diungkapkan pula bahwa keracunan darah tersebut terjadi akibat dari gigitan sebuah nyamuk yang terinfeksi. Hal ini menepis spekulasi yang berkembang dimana disebutkan bahwa kematian Herbert dikarenakan sebuah kutukan mumi. Kemudian, berhembus rumor lagi yang menyebutkan bahwa ada laporan kematian yang terjadi secara mendadak dari orang lain setelah mengunjungi Lembah Para Raja tersebut. Bagaimanapun juga, para wartawan saat itu telah membuat suatu cerita dan karangan seolah-olah kematian yang terjadi diakibatkan oleh sebuah kutukan.

Pada tahun 2002, akhirnya para ilmuwan meneliti tingkat kelangsungan hidup dari 44 orang yang termasuk di dalam tim ekspedisi Carter yang telah berada di Mesir selama masa penggalian tersebut. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa mereka tidak berisiko tinggi meninggal lebih awal baik saat memulai ekspedisi maupun setelahnya di Lembah Para Raja.

2. Kematian mendadak Raja Tut yang misterius.

Selama bertahun-tahun, berkembang spekulasi yang menyatakan bahwa kematian Raja Tut muda (pada usia 19 tahun) dikarenakan oleh sebuah pukulan di kepala atau dijatuhkan dari lantai atas istana oleh para pesaingnya atau seorang pengkhianat. Namun baru-baru ini para tim ahli forensik yang meneliti tentang misteri kematian Raja Tut telah menemukan suatu hasil yang menyatakan jika kerusakan pada tengkorak mumi tersebut (jasad Raja Tut) terjadi setelah kematian, baik selama proses pembalseman maupun pada saat berada di tangan tim Carter.

Jadi, bagaimanakah raja muda ini meninggal?
Pada tahun 2005, sebuah studi mengungkapkan bahwa jika kaki Raja Tut muda patah dan menyebabkan sebuah infeksi pada luka tak lama sebelum kematiannya. Menurut salah satu teori, Firaun muda mengalami cedera saat terjatuh dari kereta selama berburu.

Sementara itu, dari hasil tes DNA yang dilakukan pada tahun 2010 menyebutkan bahwa Tutankhamen sebelumnya telah terinfeksi malaria, yang mungkin telah memperburuk dari infeksi kaki yang dialami sesudahnya kemudian.

 3. Tutankhamen di balik radikalisme ayahnya, mengembalikan kepercayaan tradisional.

Para sejarawan Egyptology menggambarkan pada masa pemerintahan Tutankhamen sebagian kondisi wilayah kekuasaannya stabil dan baik. Firaun muda ini pernah melakukan setidaknya satu kali sebuah reformasi besar untuk lembaga pemerintahannya. Ayahnya, Akhenaten, dianggap sebagai "Dewa Aten" yang merupakan salah satu dewa Mesir yang paling penting dan mendorong semua penduduk untuk beribadah menyembahnya. Akhenaten juga memindahkan ibukota Mesir dari Thebes ke sebuah situs baru sebagai tempat khusus Dewa Aten.

Tutankhamen diperkirakan telah mengembalikan perubahan agama atau kepercayaan para penduduk seperti semula dimana ia memulihkan "Dewa Amun" ke tempat kemuliaannya sebagai dewa yang tertinggi, serta mengembalikan ibukota Mesir ke Thebes. Dia juga meninggalkan nama aslinya "Tutankhaten" yang berarti suatu perlambang pada keagungan Aten dan menjadi "Tutankhamen" yang berarti suatu perlambang keagungan Amun.

4. Tutankhamen memiliki kecacatan atau kelainan bawaan.

Pada tahun 2010 para peneliti melakukan suatu analisis DNA pada sisa-sisa jasad dari Raja Tut dan keluarganya. Para peneliti kemudian membuat suatu pengumuman yang sangat mengejutkan bagi dunia science dimana disimpulkan jika sang raja muda Tutkhamen adalah suatu produk individu yang gagal atau cacat dikarenakan dia merupakan hasil dari perkawinan satu darah antara Firaun Akhenaten dan salah seorang kakak kandung ayahnya yang merupakan ibu kandung dari raja muda Tutkhamen.

Para peneliti menyatakan jika pada masa itu perkawinan sedarah merupakan suatu hal yang harus dilakukan di kalangan bangsawan Mesir kuno. Hal itu didasari oleh anggapan dari para raja yang melihat diri mereka sebagai keturunan dewa dan berharap untuk tetap terus mempertahankan garis keturunan yang asli dan sah. Para peneliti berpandangan bahwa tren ini memberikan kontribusi terhadap insiden yang lebih tinggi dari sebuah kecacatan atau suatu kelainan bawaan seperti adanya sumbing yang dialami Raja Tut. Para peneliti menambahkan jika Tutankhamen sendiri pada akhirnya menikahi saudara tirinya yang bernama Ankhesenamun.

5. Rahasia Peninggalan berharga Raja Tut dipendam bersama jasadnya.

Saat Carter melakukan ekspedisi jauh lebih ke dalam di area pemakaman Tutankhamen, ia menemukan sebuah ruangan harta karun yang penuh dengan benda-benda penguburan yang bernilai tinggi, termasuk patung-patung emas, perhiasan untuk acara ritual, perahu-perahu kecil yang mewakili suatu perlambang kendaraan untuk perjalanan ke surga dan sebuah kuil untuk prosesi pembalseman para Firaun. Di dalam ruangan ini juga ditemukan dua buah peti mati yang berisi mumi dari dua janin.

Tes DNA terbaru menunjukkan bahwa salah satu mumi adalah putri dari Tutkhamen yang meninggal setelah kelahirannya, sedangkan mumi janin yang satu lagi kemungkinan adalah anaknya juga. Para peneliti percaya jika Raja Tut tidak meninggalkan ahli waris yang hidup, mungkin karena dia dan Ankhesenamun hanya bisa hamil dengan anak kelainan bawaan yang fatal.

Sumber: http://avanoustic.blogspot.com/2014/03/5-rahasia-dan-fakta-raja-muda-tut.html